Bekerja di apotek itu ternyata
sangat menyenangkan. Setiap hari ada saja hal baru yang menantang. Kenapa menantang? Karena setiap hari selalu saja ada
pasien yang berkonsultasi dengan
keluhan yang baru.
Seringkali mengenai masalah
kesehatan atau obat-obatan yang tak terpikirkan sebelumnya. Hal ini jadi tantangan buat saya
untuk bisa menjawab dan mencarikan
solusi dari permasalahan mereka.
Ada semacam rasa tanggung jawab
sebagai seorang tenaga Farmasis untuk memberi
penjelasan yang baik, benar, jelas dan
dapat dipahami oleh
mereka. Setiap kali
melihat ekspresi puas di wajah
mereka setelah diberi penjelasan, rasanya hati ini
ikut senang dan
puas. Selalu langsung terlintas di pikiran dan
terucap di dalam hati
mendoakan agar mereka segera disembuhkan dari sakitnya. Aamiiiin...
Setiap hari ada saja pasien yang menanyakan tentang obat apa untuk mengatasi
keluhan pegal-pegal, kesemutan, sakit tulang dan sendi. Banyak
yang langsung menyebutkan istilah rematik
atau asam urat terhadap keluhan yang mereka rasakan tersebut. Hal ini
membuat saya penasaran dan berusaha mencari tahu lebih banyak mengenai kedua
istilah ini....
Rematik
Setiap kondisi yang
disertai rasa nyeri dan
kekakuan pada sistem muskuloskeletal (otot rangka dan persendian)
disebut rematik. Sementara, istilah artritis, umumnya digunakan apabila sendi
menjadi tempat utama penyakit rematik.
Misalnya, apabila sendi pergelangan tangan terasa sakit, maka itu disebut
artritis.
Rematologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit sendi, termasuk penyakit
arthritis. Hingga saat ini dikenal lebih dari seratus macam penyakit sendi yang
sering kali memberikan gejala yang
hampir sama. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan diagnostik yang cermat agar
diperoleh diagnosis yang tepat, sehingga penanganannya pun lebih terarah.
Penyakit rematik dapat menyerang semua umur, tetapi frekuensinya
berbeda-beda pada berbagai kelompok umur. Misalnya, osteoartritis lebih sering
terjadi pada usia lanjut. Sementara, lupuseritematosus sistemik (LES) lebih
banyak terjadi pada wanita usia muda.
Gejala Klinis Rematik
Nyeri sendi merupakan keluhan utama
penderita rematik. Nyeri yang disertai penjalaran rasa nyeri ke tempat yang jauh merupakan keluhan khas yang
disebabkan oleh penekanan cabang saraf (penyakit saraf), bukan rematik. Selain
itu, perlu dibedakan juga nyeri yang disebabkan oleh perubahan mekanis dengan
nyeri yang disebabkan oleh peradangan (inflamasi). Pada nyeri mekanis, nyerinya
timbul setelah aktivitas dan hilang setelah istirahat, serta tidak timbul pada
pagi hari. Sebaliknya, nyeri inflamasi (peradangan) akan bertambah berat pada
pagi hari saat bangun tidur, dan disertai kaku sendi atau nyeri hebat pada awal
gerak, tetapi berkurang justru setelah melakukan aktivitas. Keluhan lainnya
dari penderita rematik adalah kaku sendi. Penderita merasa sukar menggerakkan
sendi. Kaku sendi semakin nyata pada pagi hari atau setelah istirahat. Selain
itu, penderita rematik tidak jarang mengalami bengkak sendi. Pada sendi terjadi
perubahan warna, bentuk atau posisi struktur ekstremitas (anggota gerak tubuh).
Hal ini tentu akan mengganggu aktivitas sehar-hari.
Penanganan Rematik
Penanganan penderita rematik sering kali memerlukan waktu yang relatif
lama. Perlu dipelihara ketaatan penderita untuk tetap berobat dalam jangka
waktu yang cukup lama.
Obat-obatan yang diberikan tergantung dari jenis rematiknya. Umumnya,
diperlukan obat antinyeri untuk mengatasi rasa sakitnya. Namun, obat ini
mempunyai efek samping iritasi atau mengganggu lambung. Oleh karena itu,
diperlukan perhatiankhusus apabila akan memberikan obat antinyeri pada
penderita dengan penyakit maag.
Obat lain yang sering diberikan kepada penderita rematik adalah
kortikosteroid yang memiliki efek antiinflamasi dan imunosupresif (menekan
sistem kekebalan tubuh kita). Pemberian obat ini juga harus dilakukan secara
hati-hati, karena disamping mengganggu lambung juga mempunyai efek samping yang
tidak sedikit.
Selain obat-obatan, penanganan penderita rematik pada tahap berikutnya
biasanya memerlukan bantuan rehabilitasi medis (fisioterapi). Rehabilitasi ini
dimaksudkan untuk mengurangi rasa nyeri, mencegah kekakuan dan keterbatasan
gerak sendi, serta mencegah terjadinya atrofi maupun kelemahan otot. Di samping
itu, rehabilitasi medis juga bisa mencegah terjadinya deformitas (kecacatan sendi),
meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri, serta mempertahankan kemandirian
penderita agar tidak tergantung kepada orang lain.
Asam Urat
Setiap hari, sel-sel tubuh kita mengalami perombakan. Sel-sel yang sudah
lama atau aus diganti dengan sel-sel yang baru. Di dalam sel-sel tubuh terdapat
inti sel yang terdiri dari deoxyribonucleic acid (DNA) dan ribonucleic acid
(RNA). Inti sel inilah yang mengatur semua kegiatan sel-sel tubuh kita. Saat
perombakan DNA dan RNA berlangsung, terbentuklah senyawa-senyawa purin (adenin
dan guanin), yang dalam proses selanjutnya akan terbentuk asam urat dari
senyawa purin tersebut. Sebagian kecil dari asam urat itu akan dipergunakan kembali
untuk pembentukan inti sel (DNA dan RNA). Sedangkan , sebagian besar asam urat
lainnya akan dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal saat buang air kecil
(sekitar 70%) dan melalui usus ketika buang air besar (sekitar 30%).
Selain dihasilkan oleh perombakan sel-sel tubuh, asam urat juga dapat
diperoleh tubuh melalui bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Beberapa
bahan makanan yang banyak mengandung asam urat, antara lain bayam, emping
melinjo, kopi, dan jeroan (hati, otak dan ginjal). Mengonsumsi minuman dengan
kadar alkohol tinggi akan meningkatkan jumlah asam urat di dalam tubuh, karena
alkohol akan menghambat pengeluaran asam urat oleh ginjal. Di samping itu,
stres, depresi, dan jiwa yang tertekan pun dapat meningkatkan pembentukan asam
urat di dalam tubuh.
Apabila kadar asam urat di dalam darah melebihi batas normal (pada wanita
kadarnya lebih dari 6 mg/dl sedangkan pada pria lebih dari 7 mg/dl) dalam kurun
waktu yang cukup lama, maka akan mempermudah terjadinya serangan artritis gout
atau yang lebih dikenal masyarakat awam dengan encok. Artritis gout akut merupakan
jenis rematik yang paling potensial disebabkan oleh kelebihan asam urat.
Serangan artritis gout akut biasanya bersifat monoartikular yakni hanya
menyerang satu sisi sendi, bisa di jempol kaki, jempol tangan, pergelangan kaki
atau pergelangan tangan. Selain itu, serangan artritis juga disertai dengan
proses peradangan, seperti bagian yang sakit berwarna merah, bengkak, teraba
panas, dan terasa sakit, sehingga menimbulkan gangguan pergerakan sendi.
Tapi keadaan
kelebihan asam urat di dalam darah ini tidak selalu identik dengan artritis
gout akut. Artinya, kejadian artritis gout akut tidak selalu disertai dengan
peningkatan kadar asam urat di dalam darah. Banyak orang dengan peningkatan
kadar asam urat di dalam darah, namun tidak pernah menderita serangan artritis
gout akut.
Setiap orang tetap harus memperhatikan betul kadar asam urat di dalam darah
mereka. Sebab, walaupun tidak menimbulkan gejala akibat peningkatan kadar asam
urat, penderita tetap akan mempunyai risiko yang lain, yakni terjadinya
kerusakan ginjal akibat penimbunan kristal-kristal urat di jaringan ginjal.
Sekitar 30% dari mereka akan menderita penyakit batu ginjal, disamping tetap
berisiko mengalami serangan jantung koroner dan stroke.
Penangan Kelebihan Asam Urat
(Hiperurisemi)
Langkah umum yang harus dilakukan dalam menangani kelebihan asam urat di
dalam darah adalah diet dengan pembatasan kalori, khususnya bagi penderita yang
kelebihan berat badan. Penderita sebaiknya membatasi konsumsi makanan yang
mengandung purin, seperti bayam,emping melinjo, kopi serta jeroan (misalnya
hati, ginjal dan otak). Penderita hendaknya juga menghindari minuman beralkohol
tinggi dan sebisa mungkin menghindari stres.
Obat yang dapat membantu menurunkan kadar asam urat di dalam darah, terdiri
dari dua kelompok obat, yaitu Urikosurik dan Penghambat oksidase xantin. Kelompok
Urikosurik berperan meningkatkan fungsi eliminasi asam urat oleh ginjal dengan
cara berkompetisi menghambat penyerapan kembali (reabsorbsi) asam urat oleh
ginjal.
Sementara, kelompok penghambat oksidase xantin (dikenal di pasaran dengan
nama Allopurinol) berfungsi menurunkan produksi asam urat serta meningkatkan
pembentukan xantin dan hipoxantin dengan cara menghambat pekerjaan xantin
oksidase yang berperan dalam metabolisme asam urat.
Berikut adalah beberapa pesan yang harus Anda perhatikan jika mengonsumsi
obat penurun kadar asam urat.
Pertama, ada kemungkinan
pemakaian obat dilakukan seumur hidup.
Kedua, bila berobat kepada
dokter yang lain, sebaiknya sampaikan bahwa Anda sedang mendapatkan pengobatan
Allopurinol.
Ketiga, lakukan pemeriksaan
kadar asam urat secara periodik, karena dosis allopurinol tergantung pada kadar
asam urat.